BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Teori
atau analisis dasar dalam ilmu ekonomi dibedakan menjadi dua bentuk yaitu
mikroekonomi, dan makroekonomi. Sebagian dari anda mungkin sudah mengenal dan
mempelajari teori mikro-ekonomi. Untuk dapat memahami analisis dan teori yang
akan diterangkan dalam buku ini, terlebih dahulu akan diterangkan tentang corak
dan ruang lingkup analisis makroekonomi, yaitu aspek-aspek dari kegiatan dalam
ekonomi yang akan diterangkan dalam teori tersebut, disamping itu, dalam
buku ini akan menerangkan pula tiga aspek yaitu:
1. Masalah-masalah ekonomi utama menilai presentasi kegiatan suatu
perekonomian.
2. Berbagai jenis data utama yang digunakan untuk mengamati dan menilai presentasi
kegiatan suatu perekonomian.
3. Masalah-masalah makroekonomi dan kebijakan-kebijakan Pemerintah
yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah makroekonomi yang dihadapi. Analisis-analisis
dalam teori makroekonomi lebih global atau lebih menyeluruh sifatnya. Dalam
makroekonomi yang diperhatikan adalah tindakan konsumen secara keseluruhan, kegiatan-kegiatan
keseluruhan pengusaha dan perubahan-perubahan keseluruhan kegiatan ekonomi.
Atas dasar corak analisis yang berbeda ini para ahli-ahli ekonomi membedakan
teori-teori dasar dalam ilmu ekonomi kepada teori mikro dan makro.
BAB II
PEMBAHASAN
A. pengertian ekonomi
makro islam
Dalam membahas
perspektif ekonomi islam, ada satu titik awal yang benar-benar harus kita
perhatikan yaitu: ekonomi dalam islam itu sesungguhnya bermuara kepada akidah islam, yang bersumber dari syari’atnya. Dan hal ini
baru dari satu sisi. Sedangkan dari sisi lain adalah al-qur’an al karim dan
as-sunnah nabawiyah yang berbahasa arab.
Karena itu, berbagai
terminology dan subtansi ekonomi yang sudah ada, haruslah dibentuk dan
disesuaikan terlebih dahulu dalam kerangka islami. Atau dengan kata lain, harus
digunakan kata dan kalimat dalam bingkai lughawi. Supaya dapat disadari
pentingnya titik permasalahan ini. Karena dengan gemblang, tegas dan jelas
mampu member pengertian yang benar tentang istilah kebutuhan, keinginan, dan
kelangkaan (al nudrat) dalam upaya memecahkan problamatika ekonomi islam.[1]
Sebelum kita mengkaji
lebih jauh tentang hakikat ekonomi islam, maka ada baiknya diberikan beberapa
pengertian tentang ekonomi islam yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi islam.
1. M.akram khan
Ekonomi makro islam yaitu yang bertujuan untuk melakukan kajian tentang
kebahagiaan hidup manusia yang dicapai dengan mengorganisasikan sumber daya
alam atas dasar bekerja sama dan partisipasi
2. Muhammad abdul manan
Ekonomi makro islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari
masalah-masalah ekonomi masyarakat yang diilhami oleh nilai-nilai islam.
3. M.umar chapra
Menurut Chapra,[2]
salah satu masalah utama dalam kehidupan social di masyarakat adalah mengenai
cara melakukan pengalokasian dan pendistribusian sumber daya yang laksa tanpa
harus bertentangan dengan tujuan makroekonominya. Tanpa adanya keseimbangan
ini, maka masyarakat mungkin akan menghadapi berbagai masalah. Misalnya, Ketika
terlalu banyak proporsi sumber daya yang dialokasikan untuk konsumsi, maka
tabungan dan tingkat investasi yang ada mungkin tidak cukup untuk dapat
mewujudkan full employment (kesempatan kerja penuh) dan tingkat pertumbuhan
ekonomi yang optimal.
Lebih lanjut Chapra , menyatakan bahwa pengalokasian sumber daya untuk konsumsi yang terlalu kecil, dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya resesi dan pengangguran akibat tidak terpenuhinya permintaan konsumen. Bahkan seandainya pula sumber daya yang dialihkan untuk keperluan konsumsi secara aggregate mampu mencukupi, tetap terbuka kemungkinan bahwa tidak semua kebutuhan pokok tiap individu dalam masyarakat dapat dipenuhi.
Lebih lanjut Chapra , menyatakan bahwa pengalokasian sumber daya untuk konsumsi yang terlalu kecil, dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya resesi dan pengangguran akibat tidak terpenuhinya permintaan konsumen. Bahkan seandainya pula sumber daya yang dialihkan untuk keperluan konsumsi secara aggregate mampu mencukupi, tetap terbuka kemungkinan bahwa tidak semua kebutuhan pokok tiap individu dalam masyarakat dapat dipenuhi.
B. Masalah
– Masalah Dasar Organisasi Makro Ekonomi
Banyak alasan yang membuat teori makroekonomi menjadi subyek
penting karena ada beberapa permasalahan yaitu: Makro ekonomi merupakan pusat keberhasilan atau kegagalan suatu bangsa. Dan Makro ekonomi menjadi topik utama
karena suatu negara bisa menanggung akibat besar pada prestasi ekonominyayang
dihasilkan dari berbagai kebijakan ekonominya.
C. Tujuan Ekonomi Syari’ah
Tujuan ekonomi syari’ah adalah untuk memberikan
keselarasan bagi kehidupan didunia,nilai-nilai yang terkandung didalamnya bukan
semata-mata untuk segolongan manusia, melainkan untuk seluruh mahluk hidup yang
ada di bumi. Sasaran utama ekonomi islam syari’ah adalah pemenuhan kebutuhan
manusia yang berlandaskan nilai-nilai islam. Bahkan ekonomi syari’ah menjadi
rahmat seluruh alam, karena sifatnya yang tak terbatas.
Adapun menurut
Nik Mustofa, Islam berorientasi pada tujuan (Goal Oriented). Prinsip-prinsip
yang mengarahkan pengorganisasian kegiatan-kegiatan ekonomi pada tingkat
individu dan kolektif bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan menyeluruh yang dalam
tata social islam.
Secara islam tujuan-tujuan itu dapat digolongkan
sebagai berikut:[3]
1. Menyediakan dan menciptakan
peluang-peluang yang sama dan luas bagi semua orang untuk berperan serta dalam
kegiatan-kegiatan ekonomi. Peserta serta individu dalam kegiatan ekonomi
merupakan tanggung jawab keagamaan. Individu diharuskan menyediakan dan
menopang setidaknya kebutuhan hidupnya sendiri dan orang-orang yang bergantung
padanya.
2. Memberantas kemiskinan aboslut dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan
dasar bagi semua individu masyarakat. Kemiskinan bukan hanya merupakan penyakit
ekonomi, tetapi juga mempengaruhi spiritualisme individu. Islam menomor satukan
pemberantasan kemiskinan. Pendekatan Islam dalam memerangi kemiskinan ialah
dengan merangsang dan membantu setiap orang untuk berpartisipasi aktif dalam
setiap kegiatan-kegiatan ekonomi.
3. Mempertahankan stabilitas ekonomi dan pertumbuhan, dan meningkatkan
kesejahteraan ekonomi. Islam memandang posisi ekonomi manusia tidak statis.
Dengan ungkapan yang sangat jelas, Allah telah menjamin bahwa semua makhluk
diciptakan untuk dimanfaatkan oleh manusia. Gagasan tentang peningkatan
kesejahteraan ekonomi manusia rupanya sebuah proposisi religious. Karena
terdapat sintesis antara aspek-aspek material dan spiritual dalam skema Islam
Smengenai kegiatan manusia, kemajuan ekonomi yang diciptakan oleh Islam juga
member sumbangan bagi perbaikan spiritual manusia. Stabilitas ekonomi dalam
Islam menunjukan pada pencapaian stabilitas harga dan tiadanya pengangguran.
Menurut umar chapra,
keselarasan kesejahteraan individu dan kesejahteraan masyarakat yang senantiasa
menjadi tolak ukur ekonomi islam dapat terealisasi jika hal pokok terjamin
keberadaannya dalam kehidupan setiap manusia, 2 hal pokok tersebut antara lain:
a) Pelaksanaan nilai-nilai spiritual islam secara keseluruhan untuk
individu maupun masyarakat
b) Pemenuhan kebutuhan pokok material manusia dengan cukup.
Bagi islam, kesejahteraan manusia hanya akan dapat terwujud manakala
sendi-sendi kehidupan ditegakkan diatas nilai-nilai keadilan mewujudkan system
distribusi kekayaan yang adil dalam pandangan islam adalah sesuatu yang sudah
menjadi ketentuan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan dan kecakapan yang
berbeda-beda. Namun demikian perbedaan tersebut tidaklah dibenarkan menjadi
sebuah alat untuk mengekspliotasi kelompok lain. Dalam hal ini kehadiran ekonomi
islam bertujuan membangun mekanisme distribusi kekayaan yang adil
ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Oleh karena itu islam sangat melarang
praktek penimbunan dan monopoli sumber daya alam disekelompok masyarakat.
Konsep distribusi kekayaan yang ditawarkan oleh ekonomi islam dalam hal
ini antara lain dengan cara:
Menciptakan keseimbangan ekonomi dalam masyarakat, keseimbangan ekonomi
hanya akan dapat terwujud manakala kekayaan tidak berputar di sekelompok
masyarakat, oleh karena itu, dalam rangka menciptakan keseimbangan ekonomi,
islam memerintahkan sirkulasi kekayaan haruslah merata tidak boleh hanya
berputar disekelompok kecil masyarakat saja.
D. pemenuhan kebutuhan
Kebutuhan adalah segala sesuatu yang diperlukan
manusia terhadap benda atau jasa yang dapat memberikan kepuasan dan kemakmuran
kepada manusia itu sendiri, baik kepuasan jasmani maupun kepuasan rohani.
Menurut
Mannan konsumsi adalah permintaan sedangkan produksi adalah penawaran. Kebutu
han konsumen yang kini dan yang telah diperhitungkan sebelumnya merupakan
insentif pokok bagi kegiatan-kegiatan ekonominya sendiri. Mereka mungkin tidak
hanya menyerap pendapatannya tetapi juga member insentif untuk meningkatkannya.
Hal ini mengandung arti bahwa pembicaraan mengenai konsumsi adalah primer, dan
hanya bila para ahli ekonomi mempertunjukkan kemampuannya untuk memahami, dan
menjelaskan prinsip produksi maupun konsumsi saja, mereka dapat mengembangkan
hukum-hukum nilai dan distribusi hampir setiap cabang lain dari subjek
tersebut.
Menurut Chapra[4], konsumsi agregat merupakan salah satu variable kunci dalam ilmu makroekonomi konvensional. Konsumsi agregat terdiri dari konsumsi barang kebutuhan dasar serta konsumsi barang mewah. Barang-barang kebutuhan dasar (termasuk untuk keperluan hidup dan kenyamanan) dapat didefinisikan sebagai barang dan jasa yang mampu memenuhi suatu kebutuhan atau mengurangi kesulitan hidup sehingga memberikan perbedaan yang riil dalam kehidupan konsumen.
Menurut Chapra[4], konsumsi agregat merupakan salah satu variable kunci dalam ilmu makroekonomi konvensional. Konsumsi agregat terdiri dari konsumsi barang kebutuhan dasar serta konsumsi barang mewah. Barang-barang kebutuhan dasar (termasuk untuk keperluan hidup dan kenyamanan) dapat didefinisikan sebagai barang dan jasa yang mampu memenuhi suatu kebutuhan atau mengurangi kesulitan hidup sehingga memberikan perbedaan yang riil dalam kehidupan konsumen.
Sedangkan
barang-barang mewah itu sendiri didefinisikan sebagai semua barang dan jasa
yang diinginkan baik untuk kebanggaan diri maupun untuk suatu yang sebenarnya
tidak memberikan kontribusi perubahan berarti bagi kehidupan konsumen. Konsumsi
agregat yang sama mungkin memiliki proporsi barang kebutuhan dasar dan barang
mewah yang berbeda dan tercapai tidaknya pemenuhan suatu kebutuhan tidak
tergantung kepada proporsi ini.[5]
Fungsi
konsumsi di dalam ilmu makroekonomi konvensional tidak memperhitungkan
komponen-komponen konsumsi agregat ini. Yang lebih banyak dibicarakan dalam ilmu
makroekonomi konvensional terutama mengenai pengaruh dari tingkat harga dan
pendapatan terhadap konsumsi. Hal ini dapat memperburuk analisis, karena saat
tingkat harga dan pendapatan benar-benar memainkan peran yang substansial dalam
menentukan konsumsi agregat, ada sejumlah factor moral, social, politik,
ekonomi dan sejarah yang mempengaruhi pengalokasianya.
E. Pertumbuhan optimum dan full Employment
Full Employment adalah penggunaan tenaga kerja penuh
dimana tingkat pengangguran suatu negara kurang dari 4%
Menurut IMF dalam laporannya dalam World Economic Outlook, saving in
growing world economic, menyebutkan berpendapat bahwa bahan dasar utamas untuk
mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkeseimbangan adalah adanya tingkat
tumbuhan ekonomi yang berkeseimbangan adalah adanya tingkat tabungan,
investasi, kerja keras dan kesungguhan, kemajuan teknologi dan manajemen
kreatif, bersama dengan perilaku social serta kebijakan pemerintah yang
mendukung.
Lebih
lanjut menurut Chapra,[6]
pokok penting dari masalah tingkat tabungan disini difokuskan kepada
kemungkinan pengaruh nilai-nilai dan institusi-institusi Islam terhadap tingkat
tabungan agregat. Semua factor yang menurunkan proporsi konsumsi dalam total
pendapatan akan meningkatkan tabungan.
BAB III
PENUTUP
A. kesimpulan
Dari pemahasan
materi tentang “Makro ekonomi Isalm” diatas, maka dapat penulis simpulkan bahwa
Analisis-analisis dalam teori makroekonomi lebih global atau lebih menyeluruh
sifatnya. Dalam makro ekonomi islam yang diperhatikan adalah tindakan konsumen
secara keseluruhan, kegiatan-kegiatan keseluruhan pengusaha dan
perubahan-perubahan keseluruhan kegiatan ekonomi.
Menurut Chapra, salah
satu masalah utama dalam kehidupan social di masyarakat adalah mengenai cara
melakukan pengalokasian dan pendistribusian sumber daya yang laksa tanpa harus
bertentangan dengan tujuan makro ekonominya.
Selain itu,
Kahf menyebutkan
bahwa pendapat umum dalam diskusi-diskusi yang telah dilakukan sejauh ini
dibidang makroekonomi Islam menganggap bahwa meskipun system pasar sangat penting,
namun masih belum memadai.
Sedangkan
menurut penulis dapat simpulkan bahwa yang dimaksud dengan system makro ekonomi
islam adalah suatu system atau ilmu yang mempelajari tentang kegiatan ekonomi
yang sejalan dengan ajaran islam.
DAFTAR PUSTAKA
Adiwarman karim, ekonomi makro islam, Jakarta: PT raja grafindo
persada, 2007
Eko Supriyitno, Ekonomi Islam: Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan
Konvensional, Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu, 2004
Sadono Sukirno, Makroekonomi: Teori Pengantar ekonomi makro, Edisi
Ketiga, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2004.
Umar chapra, system moneter islam Jakarta: gema insane press. 2000
[1] Sadono
Sukirno, Makroekonomi: Teori Pengantar ekonomi makro, Edisi Ketiga,( Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2004.)
[2]
Umar chapra, system moneter islam (Jakarta: gema insane press. 2000)
[3]
Eko Supriyitno, Ekonomi Islam: Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional,
Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu, 2004
[4]
Umar chapra, system moneter islam (Jakarta: gema insane press. 2000)
[5]
Adiwarman karim, ekonomi makro islam, (Jakarta: PT raja grafindo persada, 2007)
[6]
Umer Chapra, Sistem Moneter Islam, ( Jakarta:Gema Insani Press, 2000)