Selasa, 12 Januari 2016

MAKALAH EKONOMI MAKRO ISLAM "KONSEP DASAR MAKRO EKONOMI ISLAM"



BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar belakang
Teori atau analisis dasar dalam ilmu ekonomi dibedakan menjadi dua bentuk yaitu mikroekonomi, dan makroekonomi. Sebagian dari anda mungkin sudah mengenal dan mempelajari teori mikro-ekonomi. Untuk dapat memahami analisis dan teori yang akan diterangkan dalam buku ini, terlebih dahulu akan diterangkan tentang corak dan ruang lingkup analisis makroekonomi, yaitu aspek-aspek dari kegiatan dalam ekonomi yang akan diterangkan dalam teori tersebut, disamping itu, dalam buku ini akan menerangkan pula tiga aspek yaitu:
1.      Masalah-masalah ekonomi utama menilai presentasi kegiatan suatu perekonomian.
2.      Berbagai jenis data utama yang digunakan untuk mengamati dan menilai  presentasi kegiatan suatu perekonomian.
3.      Masalah-masalah makroekonomi dan kebijakan-kebijakan Pemerintah yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah makroekonomi yang dihadapi. Analisis-analisis dalam teori makroekonomi lebih global atau lebih menyeluruh sifatnya. Dalam makroekonomi yang diperhatikan adalah tindakan konsumen secara keseluruhan, kegiatan-kegiatan keseluruhan pengusaha dan perubahan-perubahan keseluruhan kegiatan ekonomi. Atas dasar corak analisis yang berbeda ini para ahli-ahli ekonomi membedakan teori-teori dasar dalam ilmu ekonomi kepada teori mikro dan makro.






BAB II
PEMBAHASAN


A. pengertian ekonomi makro islam
Dalam membahas perspektif ekonomi islam, ada satu titik awal yang benar-benar harus kita perhatikan yaitu: ekonomi dalam islam itu sesungguhnya bermuara kepada akidah islam,  yang bersumber dari syari’atnya. Dan hal ini baru dari satu sisi. Sedangkan dari sisi lain adalah al-qur’an al karim dan as-sunnah nabawiyah yang berbahasa arab.
Karena itu, berbagai terminology dan subtansi ekonomi yang sudah ada, haruslah dibentuk dan disesuaikan terlebih dahulu dalam kerangka islami. Atau dengan kata lain, harus digunakan kata dan kalimat dalam bingkai lughawi. Supaya dapat disadari pentingnya titik permasalahan ini. Karena dengan gemblang, tegas dan jelas mampu member pengertian yang benar tentang istilah kebutuhan, keinginan, dan kelangkaan (al nudrat) dalam upaya memecahkan problamatika ekonomi islam.[1]
Sebelum kita mengkaji lebih jauh tentang hakikat ekonomi islam, maka ada baiknya diberikan beberapa pengertian tentang ekonomi islam yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi islam.

1.      M.akram khan
Ekonomi makro islam yaitu yang bertujuan untuk melakukan kajian tentang kebahagiaan hidup manusia yang dicapai dengan mengorganisasikan sumber daya alam atas dasar bekerja sama dan partisipasi


2.      Muhammad abdul manan
Ekonomi makro islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi masyarakat yang diilhami oleh nilai-nilai islam.

3.      M.umar chapra
Menurut Chapra,[2] salah satu masalah utama dalam kehidupan social di masyarakat adalah mengenai cara melakukan pengalokasian dan pendistribusian sumber daya yang laksa tanpa harus bertentangan dengan tujuan makroekonominya. Tanpa adanya keseimbangan ini, maka masyarakat mungkin akan menghadapi berbagai masalah. Misalnya, Ketika terlalu banyak proporsi sumber daya yang dialokasikan untuk konsumsi, maka tabungan dan tingkat investasi yang ada mungkin tidak cukup untuk dapat mewujudkan full employment (kesempatan kerja penuh) dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang optimal.
            Lebih lanjut Chapra , menyatakan bahwa pengalokasian sumber daya untuk konsumsi yang terlalu kecil, dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya resesi dan pengangguran akibat tidak terpenuhinya permintaan konsumen. Bahkan seandainya pula sumber daya yang dialihkan untuk keperluan konsumsi secara aggregate mampu mencukupi, tetap terbuka kemungkinan bahwa tidak semua kebutuhan pokok tiap individu dalam masyarakat dapat dipenuhi.

B. Masalah – Masalah Dasar Organisasi Makro Ekonomi
Banyak alasan yang membuat teori makroekonomi menjadi subyek penting karena ada beberapa permasalahan yaitu:  Makro ekonomi merupakan pusat keberhasilan atau kegagalan suatu bangsa. Dan Makro ekonomi menjadi topik utama karena suatu negara bisa menanggung akibat besar pada prestasi ekonominyayang dihasilkan dari berbagai kebijakan ekonominya.

C. Tujuan Ekonomi Syari’ah
Tujuan ekonomi syari’ah adalah untuk memberikan keselarasan bagi kehidupan didunia,nilai-nilai yang terkandung didalamnya bukan semata-mata untuk segolongan manusia, melainkan untuk seluruh mahluk hidup yang ada di bumi. Sasaran utama ekonomi islam syari’ah adalah pemenuhan kebutuhan manusia yang berlandaskan nilai-nilai islam. Bahkan ekonomi syari’ah menjadi rahmat seluruh alam, karena sifatnya yang tak terbatas.
Adapun menurut Nik Mustofa, Islam berorientasi pada tujuan (Goal Oriented). Prinsip-prinsip yang mengarahkan pengorganisasian kegiatan-kegiatan ekonomi pada tingkat individu dan kolektif bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan menyeluruh yang dalam tata social islam.
Secara islam tujuan-tujuan itu dapat digolongkan sebagai berikut:[3]
1.       Menyediakan dan menciptakan peluang-peluang yang sama dan luas bagi semua orang untuk berperan serta dalam kegiatan-kegiatan ekonomi. Peserta serta individu dalam kegiatan ekonomi merupakan tanggung jawab keagamaan. Individu diharuskan menyediakan dan menopang setidaknya kebutuhan hidupnya sendiri dan orang-orang yang bergantung padanya.
2.      Memberantas kemiskinan aboslut dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar bagi semua individu masyarakat. Kemiskinan bukan hanya merupakan penyakit ekonomi, tetapi juga mempengaruhi spiritualisme individu. Islam menomor satukan pemberantasan kemiskinan. Pendekatan Islam dalam memerangi kemiskinan ialah dengan merangsang dan membantu setiap orang untuk berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan-kegiatan ekonomi.
3.      Mempertahankan stabilitas ekonomi dan pertumbuhan, dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Islam memandang posisi ekonomi manusia tidak statis. Dengan ungkapan yang sangat jelas, Allah telah menjamin bahwa semua makhluk diciptakan untuk dimanfaatkan oleh manusia. Gagasan tentang peningkatan kesejahteraan ekonomi manusia rupanya sebuah proposisi religious. Karena terdapat sintesis antara aspek-aspek material dan spiritual dalam skema Islam Smengenai kegiatan manusia, kemajuan ekonomi yang diciptakan oleh Islam juga member sumbangan bagi perbaikan spiritual manusia. Stabilitas ekonomi dalam Islam menunjukan pada pencapaian stabilitas harga dan tiadanya pengangguran.
Menurut umar chapra, keselarasan kesejahteraan individu dan kesejahteraan masyarakat yang senantiasa menjadi tolak ukur ekonomi islam dapat terealisasi jika hal pokok terjamin keberadaannya dalam kehidupan setiap manusia, 2 hal pokok tersebut antara lain:
a)      Pelaksanaan nilai-nilai spiritual islam secara keseluruhan untuk individu maupun masyarakat
b)      Pemenuhan kebutuhan pokok material manusia dengan cukup.
Bagi islam, kesejahteraan manusia hanya akan dapat terwujud manakala sendi-sendi kehidupan ditegakkan diatas nilai-nilai keadilan mewujudkan system distribusi kekayaan yang adil dalam pandangan islam adalah sesuatu yang sudah menjadi ketentuan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan dan kecakapan yang berbeda-beda. Namun demikian perbedaan tersebut tidaklah dibenarkan menjadi sebuah alat untuk mengekspliotasi kelompok lain. Dalam hal ini kehadiran ekonomi islam bertujuan membangun mekanisme distribusi kekayaan yang adil ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Oleh karena itu islam sangat melarang praktek penimbunan dan monopoli sumber daya alam disekelompok masyarakat.
Konsep distribusi kekayaan yang ditawarkan oleh ekonomi islam dalam hal ini antara lain dengan cara:
Menciptakan keseimbangan ekonomi dalam masyarakat, keseimbangan ekonomi hanya akan dapat terwujud manakala kekayaan tidak berputar di sekelompok masyarakat, oleh karena itu, dalam rangka menciptakan keseimbangan ekonomi, islam memerintahkan sirkulasi kekayaan haruslah merata tidak boleh hanya berputar disekelompok kecil masyarakat saja.

D. pemenuhan kebutuhan
Kebutuhan adalah segala sesuatu yang diperlukan manusia terhadap benda atau jasa yang dapat memberikan kepuasan dan kemakmuran kepada manusia itu sendiri, baik kepuasan jasmani maupun kepuasan rohani.
Menurut Mannan konsumsi adalah permintaan sedangkan produksi adalah penawaran. Kebutu han konsumen yang kini dan yang telah diperhitungkan sebelumnya merupakan insentif pokok bagi kegiatan-kegiatan ekonominya sendiri. Mereka mungkin tidak hanya menyerap pendapatannya tetapi juga member insentif untuk meningkatkannya. Hal ini mengandung arti bahwa pembicaraan mengenai konsumsi adalah primer, dan hanya bila para ahli ekonomi mempertunjukkan kemampuannya untuk memahami, dan menjelaskan prinsip produksi maupun konsumsi saja, mereka dapat mengembangkan hukum-hukum nilai dan distribusi hampir setiap cabang lain dari subjek tersebut.
            Menurut Chapra[4]
, konsumsi agregat merupakan salah satu variable kunci dalam ilmu makroekonomi konvensional. Konsumsi agregat terdiri dari konsumsi barang kebutuhan dasar serta konsumsi barang mewah. Barang-barang kebutuhan dasar (termasuk untuk keperluan hidup dan kenyamanan) dapat didefinisikan sebagai barang dan jasa yang mampu memenuhi suatu kebutuhan atau mengurangi kesulitan hidup sehingga memberikan perbedaan yang riil dalam kehidupan konsumen.
Sedangkan barang-barang mewah itu sendiri didefinisikan sebagai semua barang dan jasa yang diinginkan baik untuk kebanggaan diri maupun untuk suatu yang sebenarnya tidak memberikan kontribusi perubahan berarti bagi kehidupan konsumen. Konsumsi agregat yang sama mungkin memiliki proporsi barang kebutuhan dasar dan barang mewah yang berbeda dan tercapai tidaknya pemenuhan suatu kebutuhan tidak tergantung kepada proporsi ini.[5]
Fungsi konsumsi di dalam ilmu makroekonomi konvensional tidak memperhitungkan komponen-komponen konsumsi agregat ini. Yang lebih banyak dibicarakan dalam ilmu makroekonomi konvensional terutama mengenai pengaruh dari tingkat harga dan pendapatan terhadap konsumsi. Hal ini dapat memperburuk analisis, karena saat tingkat harga dan pendapatan benar-benar memainkan peran yang substansial dalam menentukan konsumsi agregat, ada sejumlah factor moral, social, politik, ekonomi dan sejarah yang mempengaruhi pengalokasianya.

E. Pertumbuhan optimum dan full Employment
Full Employment adalah penggunaan tenaga kerja penuh dimana tingkat pengangguran suatu negara kurang dari 4%
Menurut IMF dalam laporannya dalam World Economic Outlook, saving in growing world economic, menyebutkan berpendapat bahwa bahan dasar utamas untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkeseimbangan adalah adanya tingkat tumbuhan ekonomi yang berkeseimbangan adalah adanya tingkat tabungan, investasi, kerja keras dan kesungguhan, kemajuan teknologi dan manajemen kreatif, bersama dengan perilaku social serta kebijakan pemerintah yang mendukung.
Lebih lanjut menurut Chapra,[6] pokok penting dari masalah tingkat tabungan disini difokuskan kepada kemungkinan pengaruh nilai-nilai dan institusi-institusi Islam terhadap tingkat tabungan agregat. Semua factor yang menurunkan proporsi konsumsi dalam total pendapatan akan meningkatkan tabungan.



     




BAB III
PENUTUP

A. kesimpulan
Dari pemahasan materi tentang “Makro ekonomi Isalm” diatas, maka dapat penulis simpulkan bahwa Analisis-analisis dalam teori makroekonomi lebih global atau lebih menyeluruh sifatnya. Dalam makro ekonomi islam yang diperhatikan adalah tindakan konsumen secara keseluruhan, kegiatan-kegiatan keseluruhan pengusaha dan perubahan-perubahan keseluruhan kegiatan ekonomi.
Menurut Chapra, salah satu masalah utama dalam kehidupan social di masyarakat adalah mengenai cara melakukan pengalokasian dan pendistribusian sumber daya yang laksa tanpa harus bertentangan dengan tujuan makro ekonominya.
Selain itu, Kahf  menyebutkan bahwa pendapat umum dalam diskusi-diskusi yang telah dilakukan sejauh ini dibidang makroekonomi Islam menganggap bahwa meskipun system pasar sangat penting, namun masih belum memadai.
Sedangkan menurut penulis dapat simpulkan bahwa yang dimaksud dengan system makro ekonomi islam adalah suatu system atau ilmu yang mempelajari tentang kegiatan ekonomi yang sejalan dengan ajaran islam.










DAFTAR PUSTAKA

Adiwarman karim, ekonomi makro islam, Jakarta: PT raja grafindo persada, 2007
Eko Supriyitno, Ekonomi Islam: Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional, Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu, 2004
Sadono Sukirno, Makroekonomi: Teori Pengantar ekonomi makro, Edisi Ketiga, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
Umar chapra, system moneter islam Jakarta: gema insane press. 2000


[1] Sadono Sukirno, Makroekonomi: Teori Pengantar ekonomi makro, Edisi Ketiga,( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.)

[2] Umar chapra, system moneter islam (Jakarta: gema insane press. 2000)
[3] Eko Supriyitno, Ekonomi Islam: Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional, Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu, 2004
[4] Umar chapra, system moneter islam (Jakarta: gema insane press. 2000)
[5] Adiwarman karim, ekonomi makro islam, (Jakarta: PT raja grafindo persada, 2007)
[6] Umer Chapra, Sistem Moneter Islam, ( Jakarta:Gema Insani Press, 2000)